Berita Others

Aksiologi Dalam Manajemen Ekspresi Estetika

Summary

Aksiologi Dalam Manajemen Ekspresi Estetika Pengertian Estetika Estetika berasal dari kata Yunani aesthesis, yang berarti pengamatan. Semiawan (2005:159) menjelaskan estetika sebagai ilmu yang mempelajari hakikat keindahan dalam seni rupa yang mengeksplorasi hakikat keindahan dalam seni rupa. Estetika adalah cabang filsafat […]

Aksiologi Dalam Manajemen Ekspresi Estetika

Aksiologi Dalam Manajemen Ekspresi Estetika

Pengertian Estetika

Estetika berasal dari kata Yunani aesthesis, yang berarti pengamatan. Semiawan (2005:159) menjelaskan estetika sebagai ilmu yang mempelajari hakikat keindahan dalam seni rupa yang mengeksplorasi hakikat keindahan dalam seni rupa. Estetika adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat keindahan dan kejahatan. Estetika membantu membentuk persepsi yang baik terhadap suatu pengalaman ilmiah sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh khalayak luas. Estetika juga mengacu pada kualitas dan desain cara-cara estetis dari suatu pengalaman ilmiah (Susanto 2011:119).

Estetika dapat dibedakan menjadi estetika deskriptif dan estetika normatif. Estetika deskriptif menggambarkan gejala pengalaman keindahan, sedangkan estetika normatif mencari dasar dari pengalaman ini. Misalnya, ditanya apakah kecantikan pada akhirnya adalah sesuatu yang objektif (terletak pada citra) atau subjektif (terletak di mata manusia itu sendiri).

Perbedaan lain dalam estetika adalah estetika filosofis dan estetika ilmiah. Perbedaan tersebut terlihat dari tujuan yang berbeda. Estetika filosofis adalah estetika yang secara filosofis mengkaji tujuannya dan sering disebut sebagai estetika tradisional. Filsafat estetika disebut estetika analitis karena semuanya tentang penguraian. Sedangkan estetika ilmiah adalah estetika yang mengkaji estetika dengan menggunakan metode ilmiah yang bukan lagi cabang filsafat (The Liang Gie dalam Surajiyo 2014:101).

 

Pengertian Keindahan

Keindahan menurut etimologi berasal dari kata latin bellum yang berarti kebaikan. Berdasarkan cakupannya, keindahan dapat dibedakan sebagai kualitas abstrak (keindahan) dan sebagai objek indah tertentu (the beautiful).

Ketika estetika dirumuskan sebagai cabang filsafat yang membahas teori kecantikan, maka definisi kecantikan menyuruh orang untuk melihat apa itu kecantikan, sedangkan teori kecantikan menjelaskan apa itu kecantikan. Pertanyaan utama dari teori kecantikan adalah hakikat keindahan, apakah keindahan itu sesuatu yang ada pada objek yang indah atau hanya ada di kepala orang yang mengamati objek tersebut?

Apa sebenarnya kecantikan itu? Kecantikan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas mendasar tertentu yang terkandung dalam sesuatu. Ciri-ciri yang paling sering disebutkan adalah kesatuan, keselarasan, simetri, keseimbangan, perlawanan (The Liang Gie dalam Surajiyo 2014:103).

Konsep keindahan lainnya seperti yang dijelaskan oleh Herbert Read, Thomas Aquinas dan kaum Sofis di Athena. Herbert Read memberikan konsep keindahan, yaitu kesatuan hubungan bentuk yang berbeda yang diserap oleh indera. Thomas Aquinas mengatakan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang menyenangkan. Kaum Sofis di Athena menggambarkan keindahan sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat atau didengar. Dalam estetika modern seseorang lebih banyak berbicara tentang seni dan pengalaman estetika karena keduanya merupakan fenomena konkret yang dapat diselidiki melalui pengamatan empiris dan diseksi sistematis.

Beberapa teori tentang kecantikan adalah sebagai berikut:

1. Teori subyektif dan obyektif

  • Teori objektif berpendapat bahwa kualitas yang menciptakan nilai estetika adalah kualitas (kualitas) yang dikaitkan dengan objek indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang melihatnya. Pengamatan hanya terdiri dari menemukan atau mengungkapkan sifat-sifat indah yang sudah muncul pada suatu objek dan sama sekali tidak berpengaruh pada perubahannya. Masalahnya adalah ciri khusus apa yang membuat suatu benda menjadi indah atau bernilai estetis. Salah satu jawabannya adalah keseimbangan antara bagian-bagian objek yang dianggap indah.
  • Teori subjektif adalah bahwa sifat-sifat yang menciptakan keindahan pada suatu objek sebenarnya tidak ada; hanya ada reaksi perasaan dalam diri seseorang melihat suatu objek. Keberadaan keindahan hanya bergantung pada pencerahan yang melihatnya. Sekalipun suatu objek diklaim memiliki nilai estetis, dapat diartikan bahwa seorang penonton memiliki pengalaman estetis dalam menanggapi objek tersebut.
  • Teori campuran adalah keindahan terletak pada hubungan antara suatu objek dan pikiran seseorang yang memandangnya, misalnya dalam bentuk objek atau memegangnya. Sebuah objek dengan demikian memiliki sifat-sifat tertentu dan sifat ini muncul dalam kesadaran melalui pencerahan, sehingga menimbulkan perasaan memegang atau menikmati objek tersebut (The Liang Gie, dalam Surajiyo 2014:104).

2. Teori Keseimbangan

Teori keseimbangan kecantikan Wladylaw Tatarkiewicz disebut teori kecantikan hebat. Jelaskan teori kecantikan yang hebat keindahan terdiri atas perimbangan dari bagian – bagian, atau lebih tepat lagi terdiri atas ukuran, persamaan dan jumlah dari bagian – bagian serta hubungannya satu sama lain. Contohnya, arsitektur Yunani, dimana keindahan dari sebuah atap tercipta dari ukuran , jumlah dan susunan dari pilar – pilar yang menyangga atap tersebut. Pilar – pilar itu mempunyai perimbangan tertentu yang tepat dalam berbagai dimensinya (The Liang Gie, dalam Surajiyo 2014:105 ).

3. Teori Bentuk Estetis

Menurut Mondroe Beardesley, menjelaskan adanya tiga ciri yang menjadi sifat-sifat ‘membuat baik (indah)’ dari benda-benda estetis pada umumnya. Ketiga ciri itu yaitu:

  • Kesatuan (unity)
    Berarti benda estetis itu tersusun secara baik atau sempurna bentuknya.
  • Kerumitan (complexity)
    Benda estetis atau karya seni memiliki isi dan unsur yang saling berlawanan serta mengandung perbedaan – perbedaan yang halus.
  • Kesungguhan (intensity)
    Benda estetis yang baik harus memiliki kualitas tertentu yang menonjol bukan sekedar sesuatu yang kosong. Kualitas itu tidak menjadi masalah apa yang dikandungnya (misalnya suasana suram atau gembira , sifat lembut atau kasar), asalkan menjadi sesuatu yang intensif atau sungguh – sungguh (The Liang gie, Surajiyo 2014:106). Sumber Rangkuman Terlengkap : SeputarIlmu.Com