Travelling

Hutan Aokigahara, Hutan Paling Angker di Jepang

Summary

Hutan rimba Aokigahara merupakan salah satu area populer di Jepang. Yup, apa ulang kecuali bukan sebab cerita-cerita di baliknya? rimba yang terletak di kaki Gunung Fuji ini adalah wilayah bunuh diri paling populer di Negeri Matahari Terbit sana cocok buat […]

Hutan rimba Aokigahara merupakan salah satu area populer di Jepang. Yup, apa ulang kecuali bukan sebab cerita-cerita di baliknya? rimba yang terletak di kaki Gunung Fuji ini adalah wilayah bunuh diri paling populer di Negeri Matahari Terbit sana cocok buat yang mau liburan ke Jepang bernuansa mistis.
Angka bunuh diri di Jepang sebenarnya terbilang tinggi. Per 2016 tercatat tersedia sebanyak 21.897 orang yang meninggal sebab bunuh diri. Jumlah sebanyak itu ternyata masih diakui sebagai angka paling rendah di dalam 20 th. terakhir, lho. Sedih banget, ya, Guys?

Tentang rimba Aokigahara
Hutan Aokigahara ini letaknya tersedia di segi barat laut Gunung Fuji, kira-kira 100 km sebelah barat Tokyo, dan punyai luas kira-kira 30 km2. Secara geografis, hutan ini terbilang subur sebab mendapat limpahan lava dari letusan Gunung Fuji th. 864 silam.

Lalu, kenapa, sih, Aokigahara populer sebagai wilayah bunuh diri? Menurut cerita orang Jepang, hutan ini dulunya dulu dijadikan area ubasute, yakni ritual mengasingkan lansia selagi terjadinya era kelaparan dan musim kering. Nah, dari situ orang-orang menjadi yakin di sana masih banyak arwah gentayangan.
Begitu memasuki lokasi, pengunjung bakal segera disergap situasi sunyi dan mencekam. Kesan seram bakal makin lama menjadi sebab pohon-pohon di Aokigahara cukup lebat. Di sini juga terdapat dua gua misterius yang mencuat dari di dalam tanah, yakni Wind Cave dan Ice Cave, dan juga bebatuan bersama formasi yang cukup janggal.
Kebanyakan orang yang mampir kemari mengakhiri hidupnya bersama langkah gantung diri di pohon yang rimbun. Lalu, apa pemerintah Jepang diam saja menyaksikan fenomena mengerikan tersebut?

Tentu saja tidak. Pengelola udah menempatkan sebagian penanda yang memuat peringatan, imbauan, dan konseling anti-bunuh diri. Di salah satu papan lebih-lebih tersedia postingan yang kurang lebih isinya menghendaki pengunjung untuk “merenungkan ulang anugerah di hidupnya, dan berkhayal keluarga, anak-anak, dan pasangan yang ditinggalkan.”
Orang Jepang, juga para pemilik toko di kira-kira lokasi, juga secara sukarela ikut berperan mencegah bunuh diri. Biasanya mereka bakal mengamati pengunjung yang mampir sendirian, atau mereka yang jiwanya terlihat “kosong”.

Setiap th. sebelum musim liburan tiba, pihak pengelola bakal jalankan sweeping jenazah para pelaku bunuh diri untuk sesudah itu diidentifikasi (kalau masih memungkinkan). Nah, kamu sendiri tertarik nggak nih untuk mampir ke Aokigahara?