3 Cerita Rakyat Tentang Anak Yang Durhaka Terhadap Ibunya

Salah satu cara pengajaran pada anak terhadap konsekuensi berbuat buruk adalah menggunakan cerita rakyat. Anda bisa memakainya untuk memberikan edukasi yang terselubung namun tetap membuat anak antusias. Salah satunya adalah menggunakan tema cerita karena durhaka terhadap ibu.

3 Cerita Rakyat Tentang Anak Yang Durhaka Terhadap Ibunya

cerita rakyat

1. Batu Bangkai

Dongeng anak durhaka pertama yang bisa dijadikan pembelajaran adalah Batu Bangkai. Legenda yang satu ini berasal dari daerah Kalimantan Selatan. Kisahnya dimulai dari seorang anak yang bernama Andung yang membantu Ibunya mencari kayu bakar.

Suatu ketika dia mendengar suara orang minta tolong, ternyata ada kakek yang terjatuh. Andung menolongnya dan kakek itu memberikannya sebuah kalung sebagai tanda terima kasih. Akhirnya Andung pergi merantau menggunakan kalung itu untuk hidup yang lebih baik.

Ternyata kalung itu memiliki kekuatan yang bagus yakni bisa menyembuhkan orang sakit. Kabar ini sampai ke raja yang putrinya sedang sakit, dia meminta Andung untuk menyembuhkannya. Putri pun sembuh dan akhirnya dinikahkan dengan Andung.

Andung sangat mencintai putri itu dan memberikan apa saja yang dia bisa termasuk buah kasturi dari Kalimantan. Ketika mencari buah tersebut dia bertemu dengan Ibu kandungnya.

Namun Andung tidak mau dan malu mengakui bahwa dia adalah Ibunya. Ibunya tentu sangat kecewa dan marah sang Ibu berdoa dan diiringi suara petir. Akhirnya Andung berubah menjadi patung bangkai manusia.

2. Si Kintan

Kisah rakyat jaman dulu berikutnya yang bisa dijadikan pembelajaran adalah Si Kintan. Kisah ini dimulai dari adanya anak yang miskin bernama Si Kintan. Suatu malam dia mendapatkan mimpi yang terasa sangat nyata.

Dari mimpinya Ia diberi tahu ada tongkat intan di bagian hulu sungai. Keesokan harinya dia mencari tongkat itu dan benar-benar menemukannya. Selanjutnya dia menjual tongkat itu ke pasar, setelah itu dia menjadi orang yang kaya raya. Dia juga memiliki istri yang sangat cantik dan melupakan kampung halamannya.

Suatu ketika dia datang ke kampung halamannya dia bertemu dengan Ibunya. Namun Kintan tidak mau mengakuinya. Sang Ibu sangat terpukul dan berdoa pada Tuhan. Tak lama kemudian ada angin kencang dan menenggelamkan kapal Si Kintan.

Semenjak itu Kintan tidak pernah terlihat lagi, namun ada monyet putih. Orang di sana berkata kalau monyet itu adalah Si Kintan. Hanya saja monyet itu akhirnya juga mati karena penyesalannya.

3. Malin Kundang

Cerita anak durhaka pada Ibu selanjutnya adalah Malin Kundang. Kisahnya berawal dari seorang anak dan Ibu yang tinggal namun mereka sangat miskin. Hingga suatu hari si anak ingin pergi ke kota untuk merantau agar kehidupannya menjadi lebih baik. Namun dia melupakan ibunya yang sudah tua dan tidak segera kembali.

Ternyata dia sudah menjadi orang kaya dan tidak mau mengakui Ibu kandungnya. Dia merasa malu karena Ibunya sangat miskin dan tua. Sang Ibu merasa terluka karena kelakuan Malin Kundang. Sampai akhirnya dia mengutuk Malin menjadi batu.

Beberapa saat kemudian langit menjadi gelap dan suram. Tuhan mengabulkan apa yang menjadi permintaan Ibunya dan Malin Kundang berubah menjadi batu. Petir dan angin pun mengiri kutukan yang dilakukan pada Malin tersebut.

Pesan yang didapatkan dari beberapa cerita rakyat di atas adalah selalu hormati Ibumu apa pun keadaannya. Ibu adalah orang yang berjasa melahirkan dan memberikan air susunya untuk Anda. Tentunya dosa besar ketika hanya terlena harta dan gengsi namun tidak mau mengakuinya.