Transisi Energi Tanpa Menyingkirkan Minyak dan Gas Bumi

Dunia hadapi kasus baru sementara perekonomian merasa sembuh usai dihantam pandemi COVID-19 sejak 2020, yakni krisis energi. Jutaan rumah dan industri di China mengalami pemadaman bergilir. Hal serupa terhitung berlangsung di beragam negara lain, dari India, Singapura, hingga negara-negara Eropa.

Permintaan energi meningkat bersamaan bersama bangkitnya ekonomi yang tahun lantas dihantam pandemi COVID-19. Harga batu bara dan gas bumi meroket akibat tingginya keinginan China dan Eropa.

Namun krisis energi itu berlangsung bukan semata dikarenakan kekurangan kapabilitas pasokan dunia. Jumlah produsen batu bara maupun gas masih banyak, begitu terhitung bersama cadangannya.

Transisi energi yang terlalu gegabah, tanpa perhitungan matang, menjadi penyebab utama krisis. Perusahaan-perusahaan raksasa energi fosil berbondong-bondong lari ke energi baru terbarukan (EBT). Investasi untuk energi fosil dipangkas.

Pada awal pandemi COVID-19, keinginan energi sebetulnya anjlok. Harga energi fosil, terutama minyak bumi, terjun bebas. Kini kebutuhan kembali meningkat dikarenakan industri-industri kembali beraktivitas. Pasokan dari EBT ternyata belum bisa mengimbangi lonjakan kebutuhan industri Flow Meter LC.

Belajar dari kejadian ini, kebijakan energi perlu direncanakan bersama baik untuk jangka panjang. Energi fosil tidak bisa disingkirkan begitu saja.

Di Indonesia, sementara ini energi fosil masih mendominasi. Porsi batu bara didalam bauran energi pada 2020 capai 37 persen, sesudah itu minyak bumi 29 persen, gas bumi 21 persen. Sedangkan EBT baru 14 persen.
Porsi energi fosil direncanakan bakal konsisten menurun. Pada 2030 diproyeksikan porsi EBT meningkat menjadi 26 % dan pada 2050 capai 31 persen. Sedangkan batu bara didalam bauran energi 2030 diproyeksikan menjadi 30 persen, sesudah itu 25 % di 2050. Minyak bumi pada 2025 menjadi 23 % dan 20 % di 2050. Sedangkan gar bumi ditingkatkan menjadi 22 % pada 2025, lantas 24 % pada 2050.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menjelaskan, porsi gas bumi didalam bauran meningkat dikarenakan dibutuhkan di jaman transisi energi.
Beruntungnya dari hasil eksplorasi di Indonesia selama 10 tahun terakhir, lebih banyak ditemukan cadangan gas bumi. Berdasarkan BP Outlook 2021, Reserves to Production Gas Indonesia 2 kali lebih besar dibandingkan minyak bumi. Produksi migas nasional ke depan pun dipastikan lebih didominasi gas bumi.

“Energi gas meningkat sebagai agen transisi energi. Dari sisi eksplorasi, kami melihat lebih dari 50 % penemuan sumur eksplorasi didalam satu dekade terakhir ini lebih banyak berupa gas. Dari sisi pengembangan, 70 % dari Plan of Development (POD) itu merupakan pengembangan lapangan gasPembangkit-pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan EBT biasanya berupa intermitten alias tidak stabil pasokannya.

Karena itu pembangkit EBT perlu energi lain sebagai penopangnya. Gas bumi bisa diandalkan untuk mendukung penggunaan EBT. Emisi yang dihasilkan gas bumi pun jauh lebih rendah dibandingkan batu bara maupun minyak.
“Jadi berarti cocok bersama perubahan policy perihal oil and gas sebagai energi, sebetulnya Indonesia mempunyai keberuntungan dikarenakan justru the future-nya adalah gas,” papar Dwi.

Minyak Bumi Juga Tetap Penting

Dwi Soetjipto terhitung menyatakan, ke depan minyak bumi terhitung masih mempunyai kegunaan mutlak untuk mencukupi kebutuhan energi nasional. Meski secara persentase didalam bauran energi menurun, namun volume minyak bumi yang dibutuhkan diproyeksikan tetap konsisten meningkat.

Pada 2030 misalnya, kebutuhan minyak bumi capai 112,9 MTOE, naik dibanding pada 2020 yang sebesar 82,8 MTOE. Lalu di 2050, meski tinggal 20 % didalam bauran energi nasional, kebutuhan minyak bumi diperkirakan capai 242,9 MTOE.

Karena itu, mengolah migas bumi masih perlu konsisten digenjot. SKK Migas telah memastikan target mengolah minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030.

Genjot Produksi Migas bersama Emisi Karbon Rendah

Untuk capai target mengolah minyak 1 juta BOPD dan gas bumi 12 BSCFD, ada 4 langkah yang disiapkan. Pertama, mengoptimalkan mengolah lapangan eksisting bersama mempertahankan level produksi.

Kedua, mempercepat penggunaan Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk menggenjot mengolah migas di sumur-sumur tua. Ketiga, menggalakkan eksplorasi migas. Keempat, jalankan percepatan regulasi lewat one door layanan policy dan insentif hulu migas.

Sejalan bersama komitmen Pemerintah Indonesia untuk ikut menghindar pengaruh jelek perubahan iklim, yang dinyatakan secara tegas didalam COP26 di Glasgow awal bulan lalu, SKK Migas mendorong penerapan Low Carbon Initiative di hulu migas.

Terdapat enam pilar didalam insiatif tersebut. Pertama, perihal regulasi terkait inisiatif rendah karbon yang bakal konsisten dilengkapi ke depannya. Kedua, pengelolaan energi. SKK Migas mendorong KKKS untuk menentukan teknologi yang irit energi. Ketiga, tidak ada kembali pembakaran gas ikutan (zero routine flaring).

Selanjutnya, SKK Migas berusaha untuk kurangi emisi kebocoran. Kelima, SKK Migas mendorong dilakukannya penghijauan atau reforestation di daerah-daerah kritis, meski di luar wilayah kerja KKKS.

Keenam, SKK Migas mendorong implementasi teknologi penangkapan dan penggunaan emisi karbon. Saat ini sedang dikaji penggunaan CCU/CCUS.

Dukungan Medco untuk Hulu Migas Nasional

MedcoEnergi hingga kini masih bersangga pada usaha migas, terlihat dari porsi membeli modal yang dialokasikan. Tahun ini, MedcoEnergi mengalokasikan USD 150 juta untuk membeli modal 2021, dari keseluruhan membeli modal sebesar USD 215 juta.

Saat ini, bersama harga komoditas yang konsisten membaik dan keinginan gas domestik yang merasa pulih, MedcoEnergi bakal konsisten mencukupi konsep dan komitmennya. Upaya ini terhitung didalam rangka mendukung pencapaian target Pemerintah untuk menaikkan mengolah minyak dan gas nasional, yakni target mengolah minyak 1 juta BOPD dan gas 12 BSCFD pada 2030 dari SKK Migas.

“Seiring kebijakan Pemerintah untuk transisi energi, MedcoEnergi berkomitmen untuk kurangi pengaruh operasi pada lingkungan didalam capai Net Zero untuk Emisi Scope 1 dan Scope 2 pada 2050 dan Scope 3 pada 2060. MedcoEnergi terhitung bakal konsisten fokus pada pengembangan masyarakat untuk jaman depan Indonesia yang lebih baik” ujar Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) Hilmi Panigoro.

Dia menambahkan, keinginan minyak dan gas bumi bakal tetap tinggi meskipun penggunaan kendaraan listrik makin lama masif. Industri aviasi hingga petrokimia masih perlu migas.

“Pertumbuhan ekonomi terlalu bergantung pada sumber energi yang sustainable dan terjangkau. Bauran EBT sebetulnya bakal meningkat dan fosil fuel berkurang. Tapi secara volume dia masih meningkat. Pertumbuhan kebutuhan untuk aviasi hingga petrokimia masih konsisten terjadi,” ujarnya.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari operasi migas Medco dilaporkan konsisten menurun, dari 248 tCO2e/1,000 TOE pada 2018, menjadi 212 tCO2e/1,000 TOE pada Semester I 2021.

“Operasi yang bersih telah menjadi prioritas tertinggi. Kita idamkan energi yang kami memanfaatkan paling efisien. Sejak 2018 kami telah berhasil menurunkan emisi karbon. Hampir semua mesin kompresor kami memanfaatkan yang paling efisien. Flaring semua kami perhatikan,” tegas Hilmi.

Produksi migas tahunan MedcoEnergi sementara ini lebih kurang 95 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), bersama 60 % di antaranya adalah gas bumi. MedcoEnergi konsisten jalankan eksplorasi dan eksploitasi cadangan migas di blok-blok potensial, yakni Gas Hiu Field, Proyek Belida Extension, Gas Bronang field, Minyak Forel field.